Jakarta – Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), khususnya terkait skema distribusi, ketepatan sasaran penerima manfaat, dan besaran biaya makan per penerima. Evaluasi ini diharapkan dapat meningkatkan efektivitas program sekaligus memperkuat kontribusinya terhadap pembangunan sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Agustina Arumsari, menyampaikan bahwa Presiden meminta agar distribusi MBG tidak hanya bergantung pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), tetapi juga membuka peluang kajian terhadap model distribusi alternatif, termasuk melalui kantin sekolah dan mekanisme lain yang dinilai lebih efektif sesuai dengan kondisi daerah. Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menyatakan bahwa seluruh kementerian dan lembaga yang terlibat diberikan waktu sekitar satu bulan untuk menyelesaikan evaluasi komprehensif sebelum dilakukan penyempurnaan kebijakan.
Program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu program
prioritas nasional yang mulai dilaksanakan secara bertahap sejak 6 Januari
2025. Pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp71 triliun dalam APBN
2025 untuk mendukung pelaksanaannya. Pada tahap awal, program ini
menargetkan sekitar 17,9 juta hingga 19,47 juta penerima manfaat, yang
terdiri atas peserta didik PAUD hingga SMA/sederajat, santri, balita, ibu
hamil, dan ibu menyusui. Pemerintah menargetkan cakupan penerima manfaat
meningkat secara bertahap hingga mencapai 82,9 juta orang pada beberapa
tahun mendatang, menjadikan MBG sebagai salah satu program intervensi sosial
dan gizi terbesar di dunia.
Urgensi program ini tidak terlepas dari berbagai tantangan
pembangunan manusia yang masih dihadapi Indonesia. Berdasarkan Survei Status
Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2024, prevalensi stunting nasional masih berada
pada kisaran 19,8 persen, meskipun telah mengalami penurunan dibanding
beberapa tahun sebelumnya. Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS)
mencatat tingkat kemiskinan nasional per September 2025 sebesar 8,47 persen,
dengan tingkat kemiskinan perdesaan masih lebih tinggi dibandingkan perkotaan.
Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) juga mencatat bahwa masih terdapat
jutaan penduduk Indonesia yang menghadapi kerentanan pangan dan kesulitan
mengakses makanan bergizi secara berkelanjutan. Kondisi tersebut menunjukkan
bahwa perbaikan kualitas gizi dan peningkatan akses pangan bergizi masih
menjadi agenda strategis pembangunan nasional.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa investasi pada
perbaikan gizi memberikan manfaat jangka panjang bagi pembangunan ekonomi dan
kualitas SDM. Laporan Bank Dunia dan UNICEF menyebutkan bahwa
anak yang memperoleh asupan gizi yang baik pada masa pertumbuhan memiliki
kemampuan belajar, tingkat kesehatan, dan produktivitas yang lebih tinggi saat
memasuki usia produktif. Sebaliknya, kekurangan gizi dan stunting dapat
menyebabkan penurunan kemampuan kognitif, menurunkan produktivitas kerja, serta
meningkatkan risiko penyakit pada masa dewasa. Oleh karena itu, Program Makan
Bergizi Gratis diharapkan menjadi instrumen strategis untuk mempercepat
terwujudnya visi Indonesia Emas 2045.
Meskipun memiliki tujuan yang sangat mulia, implementasi
MBG masih menghadapi sejumlah tantangan. Pertama, ketepatan sasaran penerima
manfaat masih perlu diperkuat melalui pemutakhiran dan integrasi data sosial
ekonomi. Kedua, terdapat kesenjangan harga pangan antarwilayah, terutama antara
wilayah perkotaan, kepulauan, pegunungan, dan daerah tertinggal, terdepan, dan
terluar (3T), sehingga skema biaya seragam berpotensi menimbulkan ketidakadilan
dalam kualitas layanan. Ketiga, aspek distribusi dan logistik masih menjadi
tantangan di sejumlah daerah yang memiliki keterbatasan infrastruktur. Keempat,
pengawasan terhadap kualitas dan keamanan pangan perlu diperkuat untuk
memastikan makanan yang disalurkan memenuhi standar gizi dan kesehatan.
Di sisi lain, Program MBG membuka peluang besar bagi
penguatan ekonomi desa dan ketahanan pangan nasional. Kebutuhan bahan pangan
dalam jumlah besar dapat menjadi pasar baru bagi petani, peternak, nelayan,
pelaku UMKM pangan, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), serta Koperasi Desa Merah
Putih (KDMP). Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendesa PDT)
mencatat terdapat lebih dari 75.266 desa di Indonesia yang memiliki
potensi pertanian, peternakan, dan perikanan yang dapat diintegrasikan dalam
rantai pasok MBG. Jika dikelola dengan baik, program ini tidak hanya menjadi
instrumen pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga dapat menggerakkan ekonomi
lokal, meningkatkan pendapatan masyarakat desa, serta memperkuat ketahanan
pangan nasional.
Sejumlah langkah perbaikan perlu dipertimbangkan agar
pelaksanaan MBG semakin efektif dan berkelanjutan. Pertama, pemerintah perlu
mengintegrasikan penetapan sasaran penerima manfaat dengan Data Tunggal
Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) sehingga bantuan dapat diprioritaskan
kepada keluarga miskin, daerah tertinggal, dan wilayah dengan prevalensi
stunting tinggi. Kedua, perlu diterapkan skema biaya berbasis wilayah atau
indeks kemahalan daerah untuk mengakomodasi perbedaan harga pangan dan biaya
distribusi. Ketiga, pengembangan rantai pasok berbasis desa perlu diperkuat
dengan mengutamakan pembelian bahan pangan dari petani, peternak, nelayan,
BUMDes, dan KDMP. Keempat, pengawasan dan transparansi program dapat diperkuat
melalui pembangunan dashboard digital dan pelibatan pemerintah daerah, sekolah,
serta masyarakat dalam pengawasan. Kelima, standar menu dan kualitas gizi perlu
disusun berdasarkan kebutuhan masing-masing kelompok umur dengan melibatkan
ahli gizi dan tenaga kesehatan.
Selain itu, Program MBG perlu diintegrasikan dengan
berbagai program pembangunan lainnya, seperti percepatan penurunan stunting,
pengentasan kemiskinan, penguatan ketahanan pangan, dan pembangunan desa.
Integrasi lintas sektor akan memastikan bahwa manfaat MBG tidak hanya dirasakan
dalam jangka pendek melalui penyediaan makanan bergizi, tetapi juga memberikan
dampak jangka panjang terhadap peningkatan kualitas SDM, pengurangan
kemiskinan, dan pertumbuhan ekonomi daerah.
Evaluasi yang tengah dilakukan pemerintah menunjukkan
komitmen kuat untuk menjadikan Program Makan Bergizi Gratis semakin tepat
sasaran, efisien, dan berdampak luas bagi masyarakat. Dengan tata kelola yang
baik, sinergi lintas sektor, serta dukungan seluruh pemangku kepentingan, MBG
berpotensi menjadi salah satu program transformasional yang tidak hanya
meningkatkan status gizi masyarakat, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal,
memperkuat ketahanan pangan nasional, dan mempercepat terwujudnya Indonesia Emas
2045.
Sumber Referensi:
- Badan Gizi
Nasional (BGN), 2025.
- Kementerian
Keuangan RI – Media Keuangan, 2025.
- Sekretariat
Kabinet Republik Indonesia, 2025.
- Portal Presiden
Republik Indonesia, 2025.
- Survei Status
Gizi Indonesia (SSGI) Kementerian Kesehatan, 2024.
- Badan Pusat
Statistik (BPS), Profil Kemiskinan di Indonesia, 2025.
- FAO, The State
of Food Security and Nutrition in the World, 2024.
- UNICEF Indonesia,
Situation Analysis of Children in Indonesia, 2024.
- World Bank, The
Human Capital Index and Nutrition Report, 2024.
- Kementerian Desa
dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT), Data Desa Indonesia,
2025.