Jakarta – Gejolak geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi dunia. Harga minyak mentah Brent melonjak hingga mencapai US$87,3 per barel pada perdagangan Selasa (14/7/2026), setelah sehari sebelumnya mencatat kenaikan tajam sebesar 9,6 persen. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terkait kebijakan baru di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran minyak paling strategis di dunia.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana pemberlakuan blokade laut terhadap Iran di Selat Hormuz serta mengenakan tarif sebesar 20 persen terhadap seluruh kargo yang melintasi jalur tersebut. Kebijakan tersebut dinilai berpotensi mengganggu distribusi energi global, mengingat sekitar 20 persen pasokan minyak dunia atau lebih dari 20 juta barel per hari melewati Selat Hormuz.
Pusat Informasi Maritim Gabungan (Joint Maritime Information Center) menyatakan bahwa komando militer AS mulai menerapkan blokade terhadap seluruh pelabuhan dan wilayah pesisir Iran sejak Selasa (14/7) waktu New York. Sementara itu, militer AS juga melanjutkan serangan terhadap Iran untuk hari ketiga berturut-turut, meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global.
Menanggapi langkah tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa Iran selama ini menjadi penjaga keamanan Selat Hormuz dan menyebut pihak yang menjamin keamanan jalur pelayaran berhak memperoleh kompensasi. Ia bahkan menyindir usulan tarif AS sebesar 20 persen sebagai angka yang terlalu tinggi dan menyatakan Iran dapat menerapkan skema tarif yang lebih "adil".
Dampak bagi Perekonomian Indonesia
Kenaikan harga minyak global berpotensi memberikan tekanan signifikan terhadap perekonomian Indonesia. Sebagai negara yang masih mengimpor sebagian kebutuhan energi, lonjakan harga minyak akan meningkatkan biaya impor energi dan memperbesar beban subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Pengamat ekonomi menilai kenaikan harga minyak juga berpotensi:
- Meningkatkan tekanan inflasi, terutama pada sektor transportasi dan logistik.
- Menambah beban subsidi BBM dan LPG, sehingga mengurangi ruang fiskal pemerintah.
- Menekan neraca perdagangan, karena nilai impor minyak dan gas meningkat.
- Mendorong pelemahan nilai tukar rupiah, akibat meningkatnya kebutuhan devisa untuk impor energi.
- Memicu kenaikan suku bunga global, apabila inflasi di negara-negara maju kembali meningkat.
Meskipun demikian, sentimen domestik Indonesia masih menunjukkan ketahanan. Pada perdagangan Selasa (14/7), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih mampu ditutup menguat tipis sebesar 0,03 persen ke level 6.039,5, sementara nilai tukar rupiah menguat sekitar 0,07 persen ke Rp18.092 per dolar AS. Penguatan tersebut didukung oleh hasil peninjauan (review) positif dari S&P Global Ratings terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Pasar Asia Masih Bertahan, Di kawasan Asia, bursa saham juga masih menunjukkan kinerja positif. Indeks Nikkei Jepang menguat 0,74 persen dan Shanghai Composite naik 1,36 persen. Penguatan tersebut didorong oleh data ekspor China yang lebih baik dari perkiraan, sehingga mampu meredam sentimen negatif dari lonjakan harga minyak.
Namun demikian, para investor masih menunggu rilis data inflasi Amerika Serikat yang dijadwalkan pada pertengahan Juli 2026. Data tersebut akan menjadi indikator penting bagi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dan pergerakan pasar keuangan global.
Pemerintah Perlu Menyiapkan Langkah Antisipatif, Meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah menjadi pengingat penting bagi Indonesia untuk mempercepat transformasi energi dan memperkuat ketahanan energi nasional. Beberapa langkah strategis yang perlu diperkuat antara lain:
- Diversifikasi sumber energi dan percepatan transisi energi terbarukan.
- Peningkatan kapasitas cadangan minyak nasional.
- Penguatan efisiensi konsumsi energi di sektor industri dan transportasi.
- Pengendalian inflasi melalui kebijakan fiskal dan moneter yang terkoordinasi.
- Penguatan produksi energi domestik untuk mengurangi ketergantungan impor.
Apabila ketegangan di Selat Hormuz terus berlanjut, harga minyak dunia diperkirakan masih akan bergerak volatil dan berpotensi menembus level psikologis US$90–100 per barel. Kondisi tersebut menjadi tantangan baru bagi perekonomian global, termasuk Indonesia, yang harus menjaga stabilitas harga, nilai tukar, dan keberlanjutan fiskal di tengah ketidakpastian geopolitik dunia.
Editor : Mustakim