Defisit APBN Semester I 2026 Tembus Rp196,5 Triliun, Pemerintah Yakin Ekonomi Indonesia Tumbuh hingga 6 Persen

Jakarta – Kondisi fiskal Indonesia pada Semester I Tahun 2026 menunjukkan kombinasi antara peningkatan penerimaan negara dan percepatan belanja pemerintah. Hingga akhir Juni 2026, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tercatat mengalami defisit sebesar Rp196,5 triliun atau setara 0,76 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Meski masih berada di zona defisit, angka tersebut lebih baik dibandingkan posisi Semester I 2025 yang mencapai 0,84 persen terhadap PDB. Pemerintah menilai kondisi ini menunjukkan ketahanan fiskal nasional masih terjaga di tengah dinamika ekonomi global dan meningkatnya kebutuhan pembiayaan program prioritas.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, dalam rapat kerja bersama DPR RI, Selasa (7/7/2026), menyampaikan bahwa APBN masih memiliki ruang yang cukup sehat, tercermin dari keseimbangan primer yang mencatat surplus sebesar Rp85,1 triliun, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp52,8 triliun.

"Keseimbangan primer yang tetap surplus menunjukkan kemampuan APBN untuk membiayai kebutuhan belanja rutin tanpa tekanan yang berlebihan dari pembayaran bunga utang," ujar Purbaya.

Penerimaan Negara Melesat di Tengah Perbaikan Ekonomi, Kinerja penerimaan negara sepanjang enam bulan pertama tahun 2026 menunjukkan tren yang sangat positif. Total penerimaan negara tumbuh 21,4 persen secara tahunan (year on year/YoY), berbalik dari kontraksi sebesar 9 persen pada Semester I 2025.

Peningkatan tersebut terutama didorong oleh penerimaan perpajakan yang tumbuh 24,6 persen. Seluruh komponen utama perpajakan mengalami peningkatan, di antaranya:

  • Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) naik 42,2 persen;
  • Pajak Penghasilan (PPh) Badan meningkat 28,6 persen;
  • Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tumbuh 21,6 persen.

Kenaikan penerimaan pajak didorong oleh membaiknya aktivitas ekonomi, peningkatan kepatuhan wajib pajak, serta implementasi sistem administrasi perpajakan Coretax yang mulai menunjukkan hasil.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga, investasi, dan aktivitas industri manufaktur masih menjadi motor pertumbuhan ekonomi nasional. Di sisi lain, inflasi yang tetap terkendali memberikan ruang bagi pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat.

Belanja Negara Dipercepat untuk Menjaga Pertumbuhan, Sejalan dengan meningkatnya penerimaan negara, pemerintah juga mempercepat penyaluran belanja. Hingga Semester I 2026, realisasi belanja negara tumbuh 17,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Belanja pemerintah pusat bahkan meningkat hingga 29,4 persen, terutama untuk mendukung sejumlah program prioritas nasional, antara lain:

  • Program Makan Bergizi Gratis (MBG);
  • Penyaluran bantuan sosial;
  • Pembayaran THR dan gaji ke-13 aparatur sipil negara;
  • Pembayaran kompensasi energi tahun 2025.

Realisasi belanja negara hingga akhir Juni telah mencapai 43,1 persen dari pagu APBN 2026, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang baru mencapai 38,8 persen.

Percepatan belanja tersebut dinilai menjadi instrumen penting dalam menjaga konsumsi domestik dan mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global.

Defisit APBN Diperkirakan Melebar, Meski kondisi Semester I masih cukup terkendali, pemerintah merevisi outlook defisit APBN 2026 menjadi Rp734,3 triliun atau setara 2,85 persen terhadap PDB. Angka ini lebih tinggi dibandingkan target awal APBN sebesar 2,68 persen terhadap PDB.

Pelebaran defisit dipicu oleh tambahan kebutuhan anggaran sekitar Rp132 triliun untuk subsidi dan kompensasi energi. Pemerintah memutuskan untuk mempertahankan harga BBM bersubsidi hingga akhir tahun guna menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.

Kendati demikian, proyeksi defisit tersebut masih berada di bawah batas aman fiskal sebesar 3 persen terhadap PDB sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.

Pemerintah Naikkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi, Di tengah meningkatnya belanja negara, pemerintah juga merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 menjadi 5,6–6 persen, lebih tinggi dibandingkan target awal dalam APBN sebesar 5,4 persen.

Optimisme tersebut didukung oleh:

  1. Konsumsi rumah tangga yang tetap kuat;
  2. Program prioritas pemerintah yang meningkatkan permintaan domestik;
  3. Membaiknya investasi;
  4. Stabilitas inflasi;
  5. Kinerja ekspor komoditas yang masih cukup baik.

Namun demikian, pemerintah tetap mewaspadai sejumlah risiko eksternal, seperti perlambatan ekonomi global, ketidakpastian perdagangan internasional, fluktuasi harga komoditas, serta arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat.

Investor Pantau Risiko Global dan Rating Indonesia, Pasar keuangan global saat ini juga menantikan rilis data inflasi Amerika Serikat pada pertengahan Juli 2026 yang diperkirakan akan memengaruhi kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Selain itu, investor juga menunggu hasil peninjauan peringkat utang (sovereign rating review) Indonesia oleh lembaga pemeringkat Standard & Poor's. Hasil evaluasi tersebut akan menjadi salah satu indikator penting dalam mengukur kepercayaan investor terhadap kondisi fiskal dan prospek ekonomi Indonesia.

Tantangan Semester II: Menjaga Keseimbangan Fiskal dan Pertumbuhan, Para ekonom menilai tantangan terbesar pemerintah pada Semester II 2026 adalah menjaga keseimbangan antara ekspansi fiskal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan disiplin anggaran agar defisit tidak melebar secara berlebihan.

Penurunan harga minyak dunia ke kisaran US$70–72 per barel diperkirakan dapat membantu mengurangi tekanan subsidi energi dan membuka peluang bagi pemerintah untuk menekan defisit di bawah proyeksi 2,85 persen terhadap PDB.

Dengan penerimaan negara yang meningkat, keseimbangan primer yang tetap surplus, serta prospek pertumbuhan ekonomi yang membaik, Indonesia dinilai masih memiliki fondasi fiskal yang cukup kuat untuk menghadapi tantangan ekonomi global sekaligus menjaga momentum pembangunan nasional hingga akhir tahun 2026.

 Editor : Mustakim

Tinggalkan Komentar