Budidaya Ikan Jadi Andalan Ketahanan Pangan, 40.000 Lokasi Disiapkan Pemerintah

Jakarta – Pemerintah menyiapkan pembangunan 40.000 lokasi budidaya ikan darat tematik sebagai salah satu Program Kerja Prioritas Nasional (PKPN) 2026–2029 untuk memperkuat ketahanan pangan nasional, mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG), sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi desa.

Program yang akan dikembangkan secara bertahap di sekitar 500 kabupaten/kota tersebut menjadi bagian dari implementasi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dan RPJMN 2025–2029 yang menempatkan pembangunan desa sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi nasional.

Melalui pengembangan budidaya ikan berbasis potensi lokal, pemerintah tidak hanya meningkatkan produksi protein hewani, tetapi juga membuka lapangan kerja, memperkuat kelembagaan ekonomi desa, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat perdesaan.

Perikanan Budidaya Menjadi Motor Ketahanan Pangan

Indonesia memiliki potensi sumber daya air tawar yang sangat besar, mulai dari sungai, waduk, embung, hingga kolam rakyat yang tersebar di berbagai wilayah. Potensi tersebut menjadi modal strategis dalam memperkuat produksi pangan berbasis protein hewani.

Program ini akan mengembangkan budidaya ikan sesuai karakteristik wilayah dengan komoditas utama seperti lele dan nila. Kedua jenis ikan tersebut dipilih karena memiliki kandungan protein tinggi, teknologi budidaya yang relatif sederhana, siklus produksi yang cepat, dan permintaan pasar yang terus meningkat.

Pengembangan kawasan budidaya juga dirancang secara terpadu, mulai dari penyediaan benih, pakan, teknologi budidaya, pengolahan hasil, hingga pemasaran.

Menjadi Penopang Program Makan Bergizi Gratis

Budidaya ikan menjadi salah satu sumber utama penyediaan protein bagi Program Makan Bergizi Gratis. Hasil produksi akan terhubung dengan jaringan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sehingga pembudidaya memperoleh kepastian pasar, sementara kebutuhan protein peserta program dapat dipenuhi secara berkelanjutan.

Model ini diharapkan menciptakan hubungan saling menguntungkan antara petani ikan, koperasi desa, BUM Desa, dan penyelenggara program gizi nasional sehingga manfaat ekonomi dapat langsung dirasakan masyarakat desa.

Kolaborasi Lintas Sektor Menjadi Kunci

Keberhasilan pembangunan 40.000 lokasi budidaya ikan memerlukan kolaborasi berbagai kementerian, pemerintah daerah, pemerintah desa, dunia usaha, perguruan tinggi, lembaga keuangan, dan masyarakat.

Kementerian Kelautan dan Perikanan berperan dalam penyediaan benih, teknologi, sarana budidaya, serta pendampingan teknis. Badan Gizi Nasional mengintegrasikan hasil produksi dengan Program Makan Bergizi Gratis. Sementara itu, Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal memperkuat pemberdayaan masyarakat melalui BUM Desa dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.

Sinergi lintas sektor tersebut diharapkan membangun ekosistem budidaya ikan yang produktif, efisien, dan berkelanjutan.

Dana Desa Dapat Menjadi Pengungkit

Pelaksanaan program di tingkat desa juga dapat diperkuat melalui pemanfaatan Dana Desa sesuai prioritas penggunaan dan hasil Musyawarah Desa.

Dana Desa dapat digunakan untuk pembangunan kolam budidaya, sistem bioflok, jaringan air, gudang penyimpanan, rumah produksi, pelatihan pembudidaya, digitalisasi pemasaran, hingga penguatan BUM Desa dan Koperasi Desa sebagai pengelola usaha.

Dengan pendekatan tersebut, Dana Desa berfungsi sebagai stimulus yang memperkuat keberlanjutan usaha masyarakat, bukan menggantikan pembiayaan pemerintah pusat.

Implementasi Bertahap

Program akan dilaksanakan secara bertahap di berbagai daerah. Tahap awal direncanakan di sejumlah wilayah di Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur.

Salah satu lokasi percontohan berada di Kabupaten Boyolali yang dikembangkan sebagai sentra budidaya lele berbasis bioflok. Pada setiap lokasi disiapkan puluhan kolam bioflok lengkap dengan benih, pakan, mesin aerasi, vitamin, hingga dukungan sarana produksi yang dikelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.

Bangun Ekonomi Desa Berbasis Potensi Lokal

Perencana Ahli Madya Direktorat Jenderal Pembangunan Desa dan Perdesaan, Mustakim, menilai program ini harus dipandang sebagai strategi pembangunan desa berbasis potensi lokal, bukan sekadar peningkatan produksi perikanan.

Menurutnya, integrasi budidaya ikan dengan Dana Desa, BUM Desa, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, dan Program Makan Bergizi Gratis akan menciptakan rantai nilai ekonomi yang saling terhubung, mulai dari pembenihan, budidaya, pengolahan, hingga pemasaran.

"Ketika seluruh rantai nilai tersebut berjalan dalam satu ekosistem, desa akan memiliki sumber pertumbuhan ekonomi baru yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional," ujarnya.

Melalui pembangunan 40.000 lokasi budidaya ikan, pemerintah berharap desa tidak hanya menjadi pusat produksi pangan, tetapi juga tumbuh sebagai pusat ekonomi baru yang mampu mendukung pencapaian visi Indonesia Emas 2045.

 

Tinggalkan Komentar