Audiensi Delegasi NASSCO Republik Federal Nigeria di Kemendesa PDT

Jakarta, 21 Juli 2026 – Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendesa PDT) menerima kunjungan resmi Delegasi National Social Safety Nets Coordinating Office (NASSCO) Republik Federal Nigeria dalam rangka International Study Tour on Sustainable Adaptive Social Protection. Kunjungan ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat kerja sama internasional sekaligus berbagi pengalaman Indonesia dalam membangun sistem perlindungan sosial adaptif berbasis desa melalui pemanfaatan Dana Desa.

Kegiatan yang berlangsung di Operational Room Lantai 1, Gedung Utama Kemendesa PDT tersebut dihadiri oleh jajaran pimpinan Kemendesa PDT, delegasi Pemerintah Nigeria, mitra pembangunan, serta pemangku kepentingan lainnya. Agenda dialog mencakup kebijakan pembangunan desa, tata kelola Dana Desa, praktik baik pemanfaatan Dana Desa untuk jaring pengaman sosial, hingga pengelolaan data desa dan sistem informasi pembangunan desa.

Direktur Jenderal Pembangunan Desa dan Perdesaan (Dirjen PDP) saat ini dijabat oleh Drs. Nugroho Setijo Negoro, M.Si menegaskan bahwa perlindungan sosial akan bermakna apabila mampu menjangkau masyarakat sebelum kerentanan berkembang menjadi krisis. Menurutnya, bantuan tidak hanya berbentuk bantuan tunai, tetapi juga kesempatan kerja, rumah layak huni, layanan kesehatan, serta perlindungan terhadap risiko bencana.

Dirjen PDP menjelaskan bahwa sejak diluncurkan pada tahun 2015, Dana Desa telah berkembang menjadi instrumen pembangunan sekaligus platform perlindungan sosial adaptif. Pada tahun 2026, pemerintah mengalokasikan Rp60,57 triliun Dana Desa yang menjangkau 75.260 desa di seluruh Indonesia. Dana tersebut dimanfaatkan untuk pembangunan infrastruktur, peningkatan layanan dasar, pengembangan ekonomi desa, serta penguatan ketahanan masyarakat menghadapi berbagai risiko sosial, ekonomi, dan bencana.

Indonesia menerapkan pendekatan "Lindungi, Berdayakan, dan Persiapkan" dalam pengelolaan Dana Desa. Melalui Bantuan Langsung Tunai (BLT) Desa, keluarga miskin ekstrem memperoleh perlindungan sosial yang ditetapkan berdasarkan data pemerintah dan diverifikasi melalui musyawarah desa. Hingga 8 Juli 2026, penyaluran BLT Desa telah mencapai Rp341,2 miliar dengan penerima manfaat sebanyak 427.607 keluarga. Selain itu, Program Padat Karya Tunai Desa (PKTD) memberikan kesempatan kerja bagi masyarakat rentan sekaligus menghasilkan infrastruktur yang bermanfaat bagi desa.

Lebih lanjut, Dirjen PDP menyampaikan berbagai praktik baik pemanfaatan Dana Desa yang memperkuat ketahanan masyarakat, antara lain pembangunan rumah layak huni, penyediaan makanan tambahan bagi ibu hamil dan balita untuk mencegah stunting, pembangunan bronjong penahan longsor, pengadaan alat pemadam kebakaran desa, hingga penguatan Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) dalam menjaga keterjangkauan harga pangan. Seluruh praktik tersebut menunjukkan bahwa Dana Desa tidak hanya membiayai pembangunan fisik, tetapi juga membangun sistem perlindungan sosial yang adaptif, inklusif, dan berkelanjutan.

Delegasi NASSCO Nigeria menyampaikan bahwa Indonesia dipilih sebagai tujuan pembelajaran karena memiliki pengalaman yang relevan dalam tata kelola pemerintahan desa, pengelolaan Dana Desa, pembangunan berbasis masyarakat, sistem informasi desa, serta mekanisme penyaluran perlindungan sosial hingga tingkat desa. Pengalaman Indonesia dinilai memberikan pembelajaran penting bagi Nigeria dalam memperkuat sistem perlindungan sosial, terutama dalam mengatasi tantangan last mile delivery agar bantuan tepat sasaran hingga masyarakat di wilayah terpencil.

Melalui forum ini, kedua negara juga membuka peluang penguatan kerja sama di bidang interoperabilitas data, verifikasi penerima manfaat, sistem pengaduan masyarakat, pembiayaan adaptif, hingga integrasi perlindungan sosial dengan pembangunan ekonomi lokal. Indonesia menegaskan bahwa setiap negara memiliki konteks masing-masing, sehingga pengalaman yang dibagikan bukan untuk disalin, melainkan menjadi referensi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan nasional masing-masing.

Menutup pidatonya, Dirjen PDP menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan desa berawal dari sinergi antara komitmen nasional, keputusan lokal, dan partisipasi masyarakat.

"Ketika keluarga terlindungi, desa menjadi tangguh. Dan ketika desa tangguh, bangsa menjadi lebih kuat."

Kunjungan Delegasi NASSCO Nigeria diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat kemitraan Indonesia–Nigeria di bidang pembangunan desa dan perlindungan sosial, sekaligus memperluas kontribusi Indonesia dalam diplomasi pembangunan internasional melalui praktik-praktik terbaik pengelolaan Dana Desa. 

Editor : Mustakim

 


Tinggalkan Komentar