Jakarta – Peningkatan keselamatan, kualitas pelayanan, dan kepercayaan masyarakat terhadap Commuterline menjadi fokus utama dalam Sarasehan bertajuk "Meningkatkan Pelayanan Keselamatan dan Kepercayaan Pelanggan Commuterline" yang diselenggarakan Forum Transportasi Perkeretaapian Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) di Jakarta. Kegiatan ini menjadi ruang dialog terbuka yang mempertemukan regulator, operator, akademisi, organisasi perlindungan konsumen, dan komunitas pengguna dari berbagai lintas Commuterline untuk menyampaikan aspirasi secara langsung sebagai bahan penyempurnaan layanan transportasi berbasis rel.
Ketua
Umum Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Dr. Ir. Haris Muhammadun,
ATD., M.M., IPU., mengatakan bahwa Commuterline telah menjadi tulang
punggung mobilitas masyarakat perkotaan. Oleh karena itu, peningkatan pelayanan
tidak cukup hanya dilakukan oleh operator, tetapi memerlukan kolaborasi yang
erat antara pemerintah sebagai regulator, operator sebagai penyedia layanan,
serta masyarakat sebagai pengguna. Menurutnya, format sarasehan kali ini
sengaja dirancang berbeda, di mana regulator dan operator duduk bersama untuk
mendengarkan secara langsung pengalaman, keluhan, serta harapan pelanggan
sehingga kebijakan yang dihasilkan benar-benar berorientasi pada kebutuhan
masyarakat.
Urgensi
peningkatan kualitas layanan Commuterline semakin besar apabila melihat tren
pertumbuhan jumlah pengguna. Sepanjang tahun 2025, KAI Commuter melayani
sekitar 349,3 juta penumpang di wilayah Jabodetabek, sementara secara
nasional jumlah pengguna layanan KAI Commuter telah mencapai lebih dari 400
juta penumpang, meningkat sekitar 7,08 persen dibandingkan tahun
sebelumnya. Di sisi lain, KAI Group secara keseluruhan mencatat pelayanan
kepada sekitar 442,1 juta pelanggan sepanjang tahun 2025 atau meningkat
sekitar 8,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka tersebut
menunjukkan bahwa transportasi berbasis rel telah menjadi bagian penting dari
aktivitas ekonomi, pendidikan, dan mobilitas masyarakat perkotaan, sehingga
setiap peningkatan kualitas pelayanan akan memberikan dampak langsung terhadap
produktivitas nasional.
Dalam
kesempatan tersebut, Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api Arif Anwar
menjelaskan bahwa layanan KRL Jabodetabek saat ini melayani lebih dari 1
juta penumpang pada hari kerja dan sekitar 750 ribu penumpang pada akhir
pekan. Menurutnya, penyelenggaraan Commuterline tidak hanya dituntut tepat
waktu, tetapi juga wajib memenuhi Standar Pelayanan Minimum (SPM) yang mencakup
aspek keselamatan, keamanan, kenyamanan, keandalan, aksesibilitas, dan
kesetaraan pelayanan bagi seluruh pengguna. Sebagai bentuk komitmen pemerintah
dalam menjaga keterjangkauan tarif sekaligus menjamin keberlangsungan
pelayanan, pemerintah mengalokasikan Public Service Obligation (PSO) sebesar
Rp2,1 triliun pada tahun 2026 khusus untuk layanan KRL Jabodetabek.
Isu
keselamatan menjadi perhatian paling dominan dalam forum tersebut. Sejumlah
pengguna mengaku masih merasakan trauma pascakecelakaan kereta api di Bekasi
Timur dan berharap pemerintah mempercepat modernisasi sistem persinyalan,
meningkatkan budaya keselamatan operasional, mempercepat penghapusan
perlintasan sebidang, serta memperkuat kapasitas jaringan agar kejadian serupa
tidak kembali terulang. Selain itu, peserta juga menekankan pentingnya
penyampaian informasi yang cepat, akurat, dan transparan kepada pelanggan
ketika terjadi gangguan perjalanan sehingga kepercayaan masyarakat terhadap
layanan Commuterline tetap terjaga. Pemerintah pun memaparkan enam strategi
untuk membangun kembali kepercayaan pelanggan, mulai dari penguatan budaya
keselamatan, peningkatan kualitas komunikasi, peningkatan kompetensi petugas
lapangan, transparansi penanganan keluhan, penyediaan fasilitas yang inklusif,
hingga penguatan kolaborasi antara regulator, operator, pemerintah daerah,
komunitas, dan akademisi.
Selain
aspek keselamatan, peserta juga menyoroti masih tingginya kepadatan penumpang
dan panjangnya waktu tunggu (headway) pada sejumlah lintas Commuterline.
Pengguna lintas Nambo mengusulkan penambahan frekuensi perjalanan serta layanan
feeder menuju Citayam dan Depok karena headway masih dapat mencapai lebih dari
satu jam. Sementara itu, pengguna lintas Cikarang mengeluhkan waktu tunggu
kereta yang masih melebihi 30 menit, sedangkan pengguna lintas Jogja–Solo
mengusulkan penambahan perjalanan pada jam-jam sibuk. Untuk meningkatkan
kapasitas angkut, peserta juga mendorong percepatan pengoperasian rangkaian 12
kereta (SF12) pada lintas-lintas dengan tingkat okupansi tinggi sehingga
kepadatan penumpang dapat dikurangi secara signifikan.
Berbagai
usulan juga disampaikan terkait peningkatan kualitas infrastruktur dan
fasilitas stasiun. Pengguna meminta penambahan lift dan eskalator di sejumlah
stasiun, pemanjangan peron agar mampu melayani rangkaian 12 kereta, peningkatan
kualitas toilet dan fasilitas ibadah, pembenahan akses penyeberangan, serta
penyediaan fasilitas yang lebih ramah bagi penyandang disabilitas, lansia, ibu
hamil, dan kelompok rentan lainnya. Pada wilayah Daerah Operasi 6 Yogyakarta,
peserta juga mengusulkan evaluasi tarif Commuter Line Jogja–Solo agar
menggunakan sistem tarif progresif sehingga lebih adil bagi penumpang jarak
pendek.
Forum
tersebut juga menegaskan bahwa peningkatan pelayanan Commuterline memiliki
dampak strategis yang jauh lebih luas dibandingkan sekadar meningkatkan
kenyamanan pengguna. Peralihan masyarakat dari kendaraan pribadi menuju
transportasi massal berbasis rel diyakini mampu mengurangi kemacetan perkotaan,
meningkatkan efisiensi perjalanan, menekan konsumsi bahan bakar minyak, serta
menurunkan emisi gas rumah kaca. Berbagai kajian mengenai transportasi
berkelanjutan juga menunjukkan bahwa moda berbasis rel memiliki tingkat emisi
karbon per penumpang yang lebih rendah dibandingkan kendaraan pribadi, sehingga
penguatan layanan Commuterline menjadi salah satu instrumen penting dalam
mendukung target pembangunan rendah karbon dan pembangunan berkelanjutan di
Indonesia.
Menanggapi
berbagai masukan tersebut, regulator bersama operator menyampaikan sejumlah
rencana tindak lanjut, antara lain evaluasi headway lintas Cikarang dan Nambo,
peningkatan sistem persinyalan dan gardu listrik, percepatan pengoperasian
rangkaian 12 kereta, pembangunan lift di Stasiun Depok Baru, evaluasi tarif
Commuter Line Jogja–Solo, hingga publikasi hasil survei kepuasan pelanggan
kepada masyarakat. Pemerintah juga menargetkan penyelesaian pembangunan Double-Double
Track (DDT) Manggarai–Jatinegara pada akhir tahun 2027 dan mulai beroperasi
pada 2028, sedangkan pembangunan DDT Bekasi–Cikarang direncanakan dimulai pada
2027 dengan target penyelesaian pada akhir 2029 sebagai bagian dari peningkatan
kapasitas jaringan KRL Jabodetabek.
Sarasehan
ditutup dengan komitmen bersama bahwa peningkatan kualitas Commuterline tidak
dapat dilakukan oleh satu institusi saja. Kolaborasi antara pemerintah,
operator, pemerintah daerah, komunitas pengguna, akademisi, dan masyarakat
menjadi kunci untuk mewujudkan sistem transportasi publik yang semakin aman,
andal, inklusif, dan berkelanjutan. Dengan jumlah pengguna yang telah mencapai
ratusan juta perjalanan setiap tahun, keberhasilan peningkatan pelayanan
Commuterline diyakini tidak hanya akan meningkatkan kualitas mobilitas
masyarakat, tetapi juga memperkuat produktivitas ekonomi kawasan metropolitan,
mendukung transisi menuju transportasi rendah karbon, serta meningkatkan daya
saing Indonesia melalui sistem transportasi publik yang modern dan berorientasi
pada keselamatan.
- Masyarakat
Transportasi Indonesia. Notulensi Sarasehan "Meningkatkan
Pelayanan Keselamatan dan Kepercayaan Pelanggan Commuterline", 25
Juni 2026.
- KAI
Commuter. Tumbuh 7,08 Persen, KAI Commuter Layani 400 Juta Pengguna di
2025.
- PT
Kereta Api Indonesia (Persero). KAI Group Transports 442 Million
Passengers in 2025.
- Badan
Pusat Statistik (BPS). Statistik Transportasi Indonesia 2025.
- Institute
for Essential Services Reform (IESR). Indonesia Sustainable Mobility
Outlook 2025.
- Nurjani,
E., dkk. (2026). Emissions Analysis of Railway Transportation in Java
Island. Journal of Engineering and Technological Sciences.
