Menkeu Purbaya Mendorong Ekonomi 2027 Didesain Tumbuh Lebih Tinggi, APBN Tetap Prudent


Jakarta — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa arah ekonomi makro dan kebijakan fiskal 2027 dirancang untuk menjaga tiga keseimbangan utama: mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi, mempercepat peningkatan kesejahteraan rakyat, dan menjaga APBN tetap sehat.

Purbaya menyampaikan bahwa pemerintah menempatkan APBN 2027 sebagai instrumen strategis untuk menjaga stabilitas, melindungi daya beli, memperkuat investasi, serta mempercepat kesejahteraan masyarakat. Arah tersebut sejalan dengan tema KEM-PPKF 2027, yakni “Tumbuh Lebih Tinggi, Sejahtera Lebih Cepat.”

Risiko Global Masih Jadi Perhatian

Pemerintah memulai arah kebijakan 2027 dengan membaca situasi global. Meski tensi geopolitik mulai mereda, ketidakpastian ekonomi dunia masih tinggi. Risiko tersebut berasal dari dinamika suku bunga negara maju, penguatan dolar AS, perang dagang, konflik geopolitik, serta volatilitas harga komoditas dan pasar keuangan.

Karena itu, kebijakan fiskal 2027 tidak hanya diarahkan untuk mendorong pertumbuhan, tetapi juga berfungsi sebagai shock absorber atau bantalan ketika tekanan global kembali meningkat. Dengan kata lain, APBN harus mampu bekerja ganda: menjaga stabilitas sekaligus mendorong pembangunan.

Ekonomi Domestik Masih Resilien

Di tengah tekanan global, pemerintah menilai ekonomi Indonesia masih menunjukkan daya tahan yang kuat. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 tercatat 5,61 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 5,39 persen.

Kinerja tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi domestik masih menjadi penopang utama. Dari sisi konsumsi, sejumlah indikator juga bergerak positif. Indeks Keyakinan Konsumen memasuki triwulan II 2026 berada pada level 123,0, menandakan optimisme masyarakat masih terjaga.

Sektor riil juga menunjukkan perbaikan. Indeks manufaktur pada Mei 2026 berada di level 50,0, yang menunjukkan aktivitas manufaktur mulai stabil. Konsumsi listrik April 2026 tumbuh sekitar 19,0 persen, ditopang listrik rumah tangga yang naik 23,0 persen, bisnis 11,9 persen, dan industri sekitar 17,1 persen. Konsumsi semen domestik juga tumbuh signifikan sekitar 35,6 persen, mencerminkan aktivitas konstruksi dan program pemerintah mulai bergerak.

Inflasi Terkendali, Cadangan Devisa Memadai

Stabilitas harga menjadi salah satu bantalan penting ekonomi domestik. Inflasi Mei 2026 tercatat 3,08 persen year-on-year atau 0,28 persen month-to-month. Angka ini masih berada dalam rentang sasaran Bank Indonesia, sehingga daya beli masyarakat relatif terjaga.

Selain inflasi, cadangan devisa juga menjadi penopang ketahanan eksternal. Pada Mei 2026, cadangan devisa tercatat 144,9 miliar dolar AS, setara sekitar 5,6 bulan impor. Posisi ini dinilai cukup memadai untuk menjaga kepercayaan pasar dan meredam tekanan eksternal.

Dari sisi perdagangan, Indonesia masih mencatat surplus selama 72 bulan berturut-turut. Pada Januari–April 2026, surplus perdagangan mencapai 5,64 miliar dolar AS. Surplus ini menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga stabilitas eksternal dan nilai tukar.

Kredit, Likuiditas, dan Investasi Masih Menopang Ekonomi

Sektor keuangan juga masih mendukung aktivitas ekonomi. Pertumbuhan kredit pada April 2026 tercatat sekitar 10,0 persen year-on-year, didorong terutama oleh kredit investasi yang tumbuh tinggi sekitar 19,5 persen. Hal ini menunjukkan fungsi intermediasi perbankan masih berjalan dan mendukung dunia usaha.

Likuiditas ekonomi juga tetap memadai. Uang beredar dalam arti luas atau M2 pada Mei 2026 mencapai Rp10.415,9 triliun, tumbuh 10,8 persen year-on-year. Kondisi ini memberi ruang bagi pembiayaan konsumsi, investasi, dan aktivitas ekonomi.

Dari sisi investasi, Penanaman Modal Asing pada triwulan I-2026 tercatat sebesar Rp250,0 triliun, tumbuh 8,5 persen year-on-year. Sementara itu, aliran modal asing mencatat net inflow Rp40,4 triliun secara year-to-date sampai 5 Juni 2026. Pada triwulan II sampai 5 Juni 2026, inflow bahkan mencapai Rp68,5 triliun, terutama ditopang oleh SRBI sebesar Rp78,5 triliun dan SBN sebesar Rp18,5 triliun, meski saham masih mencatat outflow sekitar Rp28,5 triliun.

Rupiah Tertekan, Tapi Fundamental Dinilai Masih Kuat

Meski indikator domestik cukup solid, pemerintah tetap mencermati tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Dalam bahan paparan, nilai tukar rupiah sampai 8 Juni 2026 berada di sekitar Rp18.039 per dolar AS. Pelemahan ini terutama dipicu sentimen global dan risk-off di pasar keuangan.

Pemerintah menilai tekanan tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental Indonesia. Fundamental domestik masih ditopang oleh cadangan devisa yang memadai, inflasi yang terkendali, defisit transaksi berjalan yang masih terjaga, serta respons Bank Indonesia yang pro-stability.

Karena itu, sinergi fiskal dan moneter menjadi penting. Bank Indonesia telah menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen untuk memperkuat stabilitas rupiah dan menjaga inflasi tetap dalam sasaran.

Asumsi Makro 2027 Optimistis, Tapi Tetap Hati-Hati

Memasuki 2027, pemerintah mengajukan asumsi dasar ekonomi makro yang mencerminkan optimisme sekaligus kehati-hatian. Pertumbuhan ekonomi 2027 ditargetkan berada pada kisaran 5,8–6,5 persen, lebih tinggi dari asumsi APBN 2026 sebesar 5,4 persen.

Inflasi ditargetkan berada pada kisaran 1,5–3,5 persen. Suku bunga SBN 10 tahun diperkirakan 6,5–7,3 persen, sementara nilai tukar rupiah diasumsikan berada pada kisaran Rp16.800–Rp17.500 per dolar AS.

Untuk sektor energi, harga minyak mentah Indonesia atau ICP diasumsikan 70–95 dolar AS per barel. Lifting minyak ditargetkan 602–615 ribu barel per hari, sedangkan lifting gas bumi berada pada kisaran 934–977 ribu barel setara minyak per hari.

Postur Fiskal 2027 Dijaga Prudent dan Sustainable

Asumsi makro tersebut menjadi dasar penyusunan postur fiskal 2027. Pemerintah menargetkan pendapatan negara berada pada kisaran 11,82–12,40 persen terhadap PDB. Belanja negara diarahkan pada kisaran 13,62–14,80 persen terhadap PDB, sementara defisit APBN dijaga pada kisaran 1,80–2,40 persen terhadap PDB.

Dengan postur tersebut, pemerintah ingin menjaga APBN tetap prudent dan sustainable. Defisit tetap dikendalikan di bawah 3 persen PDB, sementara utang dijaga dalam batas aman. Namun, APBN tetap diberi ruang untuk mendorong belanja produktif, perlindungan sosial, dan investasi strategis.

Tiga Pilar Kebijakan Fiskal 2027

Agar tidak tumpang tindih, kebijakan fiskal 2027 disusun dalam tiga pilar yang saling melengkapi.

Pertama, optimalisasi pendapatan. Pemerintah akan memperkuat kepatuhan pajak, memperluas basis pajak, meningkatkan efektivitas core tax, menyesuaikan sistem perpajakan dengan ekonomi digital dan global, mengoptimalkan penerimaan sumber daya alam, serta memberikan insentif fiskal yang lebih terukur untuk mendorong investasi.

Kedua, belanja berkualitas. Belanja negara diarahkan agar lebih efektif, efisien, produktif, dan berdampak langsung pada pertumbuhan serta kesejahteraan. Pemerintah juga menekankan refocusing belanja, penguatan subsidi dan perlindungan sosial yang lebih tepat sasaran, serta harmonisasi belanja pusat dan daerah.

Ketiga, pembiayaan inovatif. Pemerintah akan menjaga defisit dan utang tetap terkendali, memanfaatkan Saldo Anggaran Lebih atau SAL untuk mengantisipasi ketidakpastian, memperkuat skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha, serta memperluas sinergi pembiayaan dengan Danantara.

Kolaborasi Fiskal, Moneter, Sektor Keuangan, dan Danantara

Arah kebijakan 2027 tidak hanya bertumpu pada APBN. Pemerintah menekankan pentingnya kolaborasi antara fiskal, moneter, sektor keuangan, dan Danantara.

APBN berfungsi sebagai katalis pertumbuhan dan kesejahteraan. Kebijakan moneter menjaga stabilitas inflasi, nilai tukar, dan likuiditas. Sektor keuangan mendukung intermediasi pembiayaan dengan biaya dana yang efisien. Sementara Danantara diarahkan untuk mendukung investasi strategis dan mengungkit peran swasta.

Kolaborasi ini diperlukan agar kebijakan tidak berjalan sendiri-sendiri. Fiskal menjaga arah pembangunan, moneter menjaga stabilitas, sektor keuangan memastikan pembiayaan mengalir, dan Danantara mempercepat investasi bernilai tambah.

Sembilan Kebijakan Strategis untuk Mitigasi Risiko

Untuk menghadapi gejolak global, pemerintah menyiapkan sembilan kebijakan strategis. Kebijakan tersebut mencakup stabilisasi BBM, stabilisasi pangan, ketahanan energi dan pangan, disiplin fiskal, efisiensi belanja, optimalisasi penerimaan sumber daya alam, paket stimulus untuk menjaga daya beli dan dunia usaha, perbaikan pola penyerapan belanja, serta sinergi fiskal-moneter.

Dengan strategi tersebut, APBN 2027 diharapkan tidak hanya menjadi alat belanja pemerintah, tetapi juga instrumen stabilisasi, perlindungan masyarakat, dan pendorong pertumbuhan ekonomi.

Target Lebih Panjang: Menuju Pertumbuhan 8 Persen

Pemerintah juga mengaitkan kebijakan 2027 dengan lintasan pertumbuhan jangka menengah. Dalam skenario optimistis, pertumbuhan ekonomi ditargetkan bergerak dari kisaran 5,8–6,5 persen pada 2027, menuju 7,5 persen pada 2028, dan 8 persen pada 2029.

Untuk mencapai target tersebut, investasi harus menjadi mesin utama pertumbuhan. Belanja pemerintah perlu semakin produktif, konsumsi rumah tangga harus tetap kuat, ekspor perlu semakin kompetitif, dan hilirisasi serta industrialisasi harus dipercepat.

Menkeu Purbaya menunjukkan bahwa pemerintah melihat ekonomi Indonesia masih cukup kuat, tetapi tetap menghadapi risiko global yang besar. Pertumbuhan ekonomi 5,61 persen, inflasi 3,08 persen, cadangan devisa 144,9 miliar dolar AS, surplus dagang 72 bulan, kredit tumbuh 10 persen, PMA Rp250 triliun, dan net inflow Rp40,4 triliun menjadi dasar optimisme pemerintah.

Namun, tekanan rupiah, volatilitas yield SBN, penguatan dolar AS, dan ketidakpastian geopolitik membuat kebijakan fiskal 2027 harus tetap hati-hati. Karena itu, APBN 2027 dirancang untuk bekerja secara kolaboratif: menjaga stabilitas, memperkuat daya tahan ekonomi, mempercepat investasi, mendorong pertumbuhan lebih tinggi, dan memastikan kesejahteraan rakyat meningkat lebih cepat.

Penulis : Mustakim

 

Tinggalkan Komentar