Cara Membangun "Learning Organization" ala Peter Senge,
Biar Desa Nggak Cuma Jadi Penonton Kemajuan
Oleh : Dr. Zulkarnaen (Kemendesa)
Peserta PKN 2 XIII 2026
Sahabat Desa, sadar
nggak sih?
Selama ini kita itu
salah kaprah melihat desa. Banyak orang berpikir kemajuan desa itu urusan
kucuran dana dari pusat, urusan bagi-bagi bantuan, atau urusan administratif
lainnya . Salah besar!
Kemakmuran sebuah
desa itu bukan ditentukan oleh seberapa besar dana desa yang masuk ke rekening
Desa, tapi ditentukan oleh seberapa cepat otak masyarakatnya belajar!
Kalau uangnya
miliaran tapi isi kepala manusianya masih pakai pola pikir zaman kolonial, ya
habisnya cuma buat proyek semen yang dua tahun lagi retak.
1. Personal
Mastery (Penguasaan Pribadi):
Stop Mentalitas "Pembantu", Saatnya Naik Kelas!
Organisasi atau desa itu nggak bakal pinter kalau
manusianya madesu (masa depan suram). Personal mastery itu artinya setiap
warga—mulai dari pak tani, anak-anak Karang Taruna, pengurus PKK, sampai
perangkat desa—harus punya syahwat untuk terus menaikkan value diri mereka.
Jangan mau jadi petani yang cuma tahu cara mencangkul.
Naik kelas! Belajar cara baca data cuaca digital, belajar cara kalkulasi margin
keuntungan, belajar mekanisasi. Perangkat desa juga jangan cuma pinter stempel
surat pengantar. Belajar literasi digital, manajemen keuangan modern.
Kalau SDM desa punya kapasitas di atas rata-rata, desa Semeton otomatis akan
melesat meninggalkan desa tetangga yang warganya cuma hobi nongkrong di pos
ronda sambil meratapi nasib.
2. Mental
Models (Model Mental)
Hancurkan Berhala "Nunggu Bantuan"
Ini musuh terbesar bangsa kita: Mental Model yang
korosif. Apa itu? Asumsi kuno yang mandek di kepala. Di desa, model mental yang
sering saya temukan adalah: "Ah, dari dulu bertani begini ya sudah
cukup," atau "Pembangunan desa mah urusan kepala desa, kita mah apa
atuh." Atau yang paling parah: Mentalitas
menunggu bansos atau proyek turun dari langit.
Disrupt pola pikir itu! Dalam organisasi pembelajar,
model mental lama yang bikin miskin ekonomi dan miskin fikir harus dihancurkan.
Ganti dengan growth mindset. Berani terbuka dengan teknologi baru
seperti smart farming. Jangan alergi sama internet. Jadikan internet sebagai
senjata buat riset pasar, bukan cuma buat main medsos atau nonton video pendek.
Kalau cara pandangnya belum berubah, dikasih modal berapa pun pasti amsiyong!
Bukan Pajangan di Kantor Desa, tapi "Impian"
yang Bikin Merinding!
Banyak desa punya visi-misi, tapi tahu nggak di mana letaknya? Cuma jadi pajangan berdebu di dinding kantor desa atau cuma formalitas di dokumen RPJMDes biar anggarannya cair. Warganya? Boro-boro tahu, peduli juga enggak! Itu bukan visi, itu namanya halusinasi birokrasi.
Shared Vision itu adalah impian kolektif yang kalau
diucapkan, bikin bulu kuduk seluruh warga berdiri! Duduk bareng lewat rembuk
warga. Libatkan anak muda, tokoh adat, kelompok perempuan. Sepakati satu gol
besar yang konkret. Misalnya: "Tahun 2030, Desa Kita Jadi Pusat Organik
Terbesar di Provinsi dan Mandiri Energi!"
Ketika visi ini meresap ke dada setiap warga, Semeton
tidak perlu lagi capek-capek nyuruh mereka gotong royong. Mereka akan bergerak
sendiri karena mereka merasa memiliki masa depan desa tersebut. Sense of ownership!
Jangan
Ada "Ego Sektoral" di Antara Kita
Di tingkat desa, modal sosial kita itu kuat banget
namanya gotong royong. Tapi sayangnya, sering kali luntur gara-gara ego
kelompok. Kelompok Tani jalan sendiri, Karang Taruna sibuk sendiri, pengurus
BUMDes musuhan sama perangkat desa. Ini namanya bunuh diri massal!
Team Learning mengajarkan kita untuk menurunkan ego dan
duduk dalam satu meja dialog yang jujur. Buat forum-forum diskusi berkala yang
sehat, bukan forum buat saling sikut atau pamer kekuasaan. Kelompok tani
belajar dari anak muda Karang Taruna tentang cara jualan online. BUMDes
memfasilitasi modal dan pasarnya. Ketika seluruh elemen di desa bisa saling
belajar dan berkolaborasi, kekuatan ekonominya bakal jadi unstoppable!
Jangan Cuma Ngobatin Gejala, Sembuhin Akarnya!
Ini kuncinya, The Fifth Discipline—Disiplin Kelima
yang mengikat semuanya. Kebanyakan pejabat atau pemimpin kita itu pusing kalau
melihat masalah karena mikirnya sepotong-sepotong. Misalnya, harga panen jatuh,
solusinya langsung kasih bantuan pupuk gratis. Ya nggak nyambung, Boss! Itu namanya
cuma ngobatin gejala luar.
Berpikir sistem itu artinya melihat desa sebagai satu
ekosistem yang utuh dan saling terhubung. Kalau harga panen jatuh, lihat
sistemnya secara makro: Bagaimana rantai pasoknya? Di mana tengkulaknya
bermain? Bagaimana peran BUMDes dalam memotong jalur distribusi? Apakah kita
perlu membangun hilirisasi industri kecil di desa supaya kita nggak cuma jual
bahan mentah? Selesaikan masalah dari akar sistemnya, bukan dari kulitnya
doang.
Pertanyaannya
sekarang: Sahabat desa mau jadi penggerak perubahan di desa sendiri, atau cuma
mau jadi penonton yang hobinya mengeluh di kolom komentar? Pilihan di tangan Sahabat
Desa. Think smart!
Penulis : Dr. Zulkarnaen
Editor : Mustakim