Evaluasi Program Desa 2026 Terkait BUMDes Tumbuh, Dana Desa Menguat, Kini Saatnya Fokus pada Dampak Nyata



Autor : Mustakim

Jakarta – Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal bersama Kantor Staf Presiden (KSP) menggelar evaluasi pelaksanaan Program Prioritas Nasional Bidang Desa periode B04 Tahun 2026. Forum ini tidak hanya membahas capaian program, tetapi juga mengidentifikasi berbagai tantangan implementasi yang perlu diperbaiki untuk memastikan pembangunan desa benar-benar memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Evaluasi mencakup sejumlah program strategis, mulai dari dukungan BUMDes terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG), pengembangan desa inklusif berbasis pemuda, peningkatan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam dan kebencanaan, hingga pemanfaatan Dana Desa untuk ketahanan pangan dan tangguh bencana.

BUMDes Mulai Menjadi Penggerak Ekonomi dalam Program MBG

Salah satu capaian yang mendapat perhatian adalah tingginya keterlibatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dalam mendukung Program Makan Bergizi Gratis.

Hasil evaluasi menunjukkan capaian fasilitasi dan pembinaan BUMDes telah melampaui target hingga 152 persen. Hingga saat ini tercatat sekitar 1.641 BUMDes dan BUMDesma telah terlibat sebagai mitra pemasok dalam ekosistem MBG.

Namun demikian, forum evaluasi menegaskan bahwa keberhasilan program tidak boleh hanya diukur dari jumlah BUMDes yang terlibat.

"Yang lebih penting adalah melihat perubahan yang terjadi setelah BUMDes bergabung dalam program. Apakah omzet meningkat, apakah usaha berkembang, apakah kelompok tani, peternak, dan nelayan memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar," menjadi salah satu poin utama yang mengemuka dalam diskusi.

Beberapa hasil pemantauan lapangan menunjukkan bahwa sebagian BUMDes masih berperan sebagai pemasok dalam skala terbatas. Bahkan terdapat kasus di mana BUMDes hanya memasok satu jenis komoditas dengan nilai transaksi yang relatif kecil, sehingga dampak ekonominya belum optimal bagi masyarakat desa.

Tantangan Besar Ada pada Data dan Rantai Pasok

Forum juga mengidentifikasi bahwa tantangan terbesar dalam mendukung MBG bukan hanya persoalan produksi, tetapi juga pengelolaan rantai pasok dan kualitas data.

Saat ini data ketersediaan pangan relatif tersedia pada tingkat nasional dan provinsi, tetapi belum tersedia secara memadai pada tingkat kecamatan dan desa. Kondisi tersebut menyebabkan ketidaksesuaian antara produksi dan kebutuhan pasar.

Sebagai contoh, pada beberapa wilayah terjadi kelebihan produksi telur, sementara wilayah lain justru mengalami kekurangan pasokan komoditas yang sama. Akibatnya, potensi ekonomi desa tidak dapat dimanfaatkan secara optimal.

Karena itu, pemerintah mendorong pembangunan basis data supply dan demand hingga tingkat kecamatan. Dengan data tersebut, pemerintah daerah dan pemerintah desa dapat mengarahkan pengembangan usaha sesuai kebutuhan riil wilayah masing-masing.

Dana Desa Harus Diukur dari Dampaknya

Selain MBG, evaluasi juga menyoroti penggunaan Dana Desa Tahun 2026 yang difokuskan pada ketahanan pangan dan tangguh bencana.

Data awal menunjukkan sebanyak 19.808 desa telah mengalokasikan Dana Desa untuk mendukung ketahanan pangan, sementara 14.833 desa mengalokasikan Dana Desa untuk ketahanan iklim dan tangguh bencana.

Meski demikian, peserta forum sepakat bahwa keberhasilan program tidak cukup diukur dari besarnya anggaran yang dialokasikan.

Ke depan, pengukuran harus diarahkan pada dampak yang dihasilkan, seperti peningkatan produksi pangan, terbentuknya cadangan pangan desa, bertambahnya kelompok usaha produktif, serta meningkatnya kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana.

Pendekatan ini sejalan dengan arah kebijakan pemerintah yang mulai menggeser fokus pelaporan dari sekadar output menuju outcome dan impact.

Pemuda Desa Menjadi Motor Desa Inklusif

Dalam forum tersebut juga dibahas pengembangan desa inklusif berbasis Pemuda/Pemudi Pelopor Desa.

Program ini menargetkan pelibatan 150 orang yang terdiri dari pemuda, kelompok rentan, perempuan, penyandang disabilitas, dan kelompok marginal lainnya di 30 desa sasaran.

Pemerintah menilai bahwa pembangunan desa inklusif harus diwujudkan dalam praktik nyata, seperti meningkatnya keterlibatan kelompok rentan dalam musyawarah desa, tersedianya ruang publik yang ramah disabilitas dan lansia, serta lahirnya inovasi sosial yang dipimpin oleh pemuda desa.

Karena itu, desa inklusif tidak boleh berhenti sebagai konsep atau dokumen perencanaan, tetapi harus menghasilkan perubahan yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Desa Tangguh Bencana Dimulai dari Penguatan Kapasitas Masyarakat

Program peningkatan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam dan kebencanaan juga menjadi fokus evaluasi.

Melalui program ini, pemerintah menargetkan terbentuknya kelompok masyarakat atau kader pengelola sumber daya alam dan kebencanaan pada 15 desa sasaran.

Forum menekankan bahwa pelatihan yang diberikan harus menghasilkan perubahan nyata berupa meningkatnya kesiapsiagaan masyarakat, terbentuknya kelembagaan desa yang aktif, serta tersusunnya rencana mitigasi yang sesuai dengan karakteristik risiko bencana di masing-masing wilayah.

Pendekatan berbasis risiko lokal dinilai penting agar program benar-benar mampu meningkatkan ketahanan desa terhadap berbagai ancaman bencana.

Kualitas Data Menentukan Kualitas Kebijakan

Salah satu kesimpulan utama dari forum evaluasi adalah pentingnya penguatan kualitas data.

Tim verifikator menemukan masih adanya berbagai kendala seperti data yang belum lengkap, format pelaporan yang tidak seragam, dokumen pendukung yang belum terstruktur, hingga bukti pelaksanaan kegiatan yang belum terdokumentasikan secara optimal.

Padahal data dukung merupakan fondasi utama dalam penyusunan kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy).

Melalui data yang valid, akurat, dan terstandarisasi, pemerintah dapat mengukur dampak program secara lebih tepat, melakukan perbaikan kebijakan, serta memastikan bahwa setiap anggaran yang digunakan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.

Fokus Berikutnya: Outcome dan Dampak

Forum evaluasi menyepakati bahwa tantangan terbesar pada periode pelaporan berikutnya, yakni B06, B09, dan B12, adalah memastikan bahwa seluruh program tidak berhenti pada tahap perencanaan maupun pelaksanaan administratif.

Keberhasilan program harus dibuktikan melalui peningkatan kesejahteraan masyarakat, penguatan ekonomi desa, meningkatnya ketahanan pangan, kesiapsiagaan menghadapi bencana, serta terwujudnya desa yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Dengan kata lain, ukuran keberhasilan pembangunan desa ke depan bukan lagi sekadar berapa banyak kegiatan yang dilakukan, tetapi seberapa besar perubahan yang berhasil diciptakan bagi masyarakat desa di seluruh Indonesia.

 

Tinggalkan Komentar