Surabaya – Wakil Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Wamendesa PDT) Ahmad Riza Patria mengajak ribuan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) menjadi motor penggerak pembangunan desa yang berkelanjutan sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional. Menurutnya, mahasiswa tidak lagi cukup menjalankan KKN sebagai kewajiban akademik, tetapi harus hadir sebagai agen perubahan yang mampu melahirkan inovasi, memberdayakan masyarakat, dan mengembangkan potensi desa.
Pesan tersebut disampaikan Ahmad Riza Patria saat menjadi keynote speaker pada Pembekalan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur bertema "Peran Pemuda dalam Mendukung Ketahanan Pangan dan Pertanian Berkelanjutan" di Surabaya, Rabu (1/7/2026). Ahmad Riza Patria menekankan pentingnya peran generasi muda dalam mendukung pembangunan desa yang inklusif, produktif, dan berkelanjutan.
"Mahasiswa
harus hadir sebagai penggerak perubahan. Jangan hanya datang melaksanakan
program KKN, tetapi jadilah mitra masyarakat desa dalam menciptakan inovasi,
memberdayakan ekonomi lokal, dan menghadirkan solusi atas berbagai persoalan
pembangunan," ujar Ahmad Riza Patria.
Menurutnya,
desa saat ini bukan lagi diposisikan sebagai objek pembangunan, melainkan
sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru yang memiliki peran strategis dalam
mewujudkan Indonesia maju, mandiri, dan berdaulat. Desa menjadi fondasi
pembangunan nasional karena menjadi ruang utama bagi penguatan ketahanan
pangan, penciptaan lapangan kerja, pengurangan kemiskinan, hingga pemerataan
kesejahteraan masyarakat.
Ia
menilai mahasiswa memiliki keunggulan dalam penguasaan teknologi, kreativitas,
kemampuan beradaptasi, serta jejaring akademik yang mampu mempercepat
transformasi pembangunan desa. Kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat harus
menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan dengan kebutuhan riil masyarakat
sehingga mampu menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat nyata.
"KKN merupakan implementasi nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Di desa, mahasiswa belajar memahami kehidupan masyarakat sekaligus menghadirkan solusi atas berbagai tantangan pembangunan," katanya.
Desa
Menjadi Pilar Pembangunan Nasional
Ahmad
Riza menjelaskan, arah pembangunan desa saat ini semakin strategis seiring
komitmen pemerintah menjadikan desa sebagai penggerak utama pemerataan ekonomi
nasional. Melalui kebijakan Dana Desa Tahun 2026, pemerintah mengarahkan
pembangunan desa agar tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur,
tetapi juga memperkuat ketahanan pangan, pengentasan kemiskinan, pengembangan
ekonomi desa, transformasi digital, hingga penguatan kelembagaan ekonomi
masyarakat.
Kebijakan
tersebut sejalan dengan visi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto,
khususnya membangun Indonesia dari desa untuk mewujudkan pemerataan ekonomi dan
pengentasan kemiskinan.
Lebih
lanjut, Ahmad Riza mengungkapkan bahwa mahasiswa harus mampu mengambil peran
aktif dalam mendukung berbagai agenda prioritas pembangunan desa, mulai dari
penguatan ketahanan pangan, pengembangan ekonomi kreatif, digitalisasi desa,
pengelolaan lingkungan, hingga penguatan Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa).
Dalam
kesempatan tersebut, sebanyak 4.459 mahasiswa KKN UPN Veteran Jawa Timur
diharapkan menjadi kekuatan besar yang mampu mendorong perubahan di desa-desa
Indonesia. Dengan latar belakang disiplin ilmu yang beragam, mahasiswa dapat
membantu pemerintah desa menyusun inovasi pembangunan, meningkatkan kualitas
pelayanan publik, memperkuat UMKM, mengembangkan BUM Desa, hingga memperluas
pemasaran digital produk unggulan desa.
Kemiskinan
Desa Masih Menjadi Tantangan
Menurut
Ahmad Riza, kontribusi mahasiswa sangat dibutuhkan mengingat wilayah perdesaan
masih menghadapi berbagai tantangan pembangunan.
Berdasarkan
data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat kemiskinan di wilayah
perdesaan pada tahun 2025 tercatat 10,72 persen, lebih tinggi
dibandingkan wilayah perkotaan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan
kualitas sumber daya manusia, inovasi, kewirausahaan, serta pemberdayaan
ekonomi masyarakat desa masih menjadi agenda pembangunan yang sangat penting.
"Mahasiswa
harus menjadi inspirator bagi pemuda desa agar semakin aktif membangun ekonomi
lokal, menjaga lingkungan, mengembangkan usaha produktif, dan memanfaatkan
teknologi digital untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ujarnya.
Desa
Kreatif dan Desa Bebas Sampah
Dalam
pemaparannya, Ahmad Riza juga menekankan pentingnya pengembangan Desa
Kreatif dan Desa Bebas Sampah sebagai bagian dari pembangunan desa
berkelanjutan.
Mahasiswa
diharapkan mampu membantu masyarakat mengidentifikasi produk unggulan desa,
memperkuat kualitas kemasan dan merek produk, memperluas pemasaran digital,
hingga mendampingi UMKM dan BUM Desa agar memiliki daya saing yang lebih
tinggi.
Selain
itu, mahasiswa juga didorong menjadi pelopor perubahan perilaku masyarakat
dalam pengelolaan lingkungan melalui edukasi pemilahan sampah, pembentukan bank
sampah, pengolahan sampah organik menjadi kompos, serta pengembangan ekonomi
sirkular berbasis masyarakat.
"Desa
yang bersih bukan hanya menciptakan lingkungan yang sehat, tetapi juga membuka
peluang ekonomi baru melalui pengelolaan sampah yang bernilai tambah,"
kata Ahmad Riza.
Mahasiswa
Harus Menjadi Penggerak Perubahan
Wamendesa
menegaskan bahwa paradigma mahasiswa harus berubah, dari sekadar peserta KKN
menjadi penggerak pembangunan desa.
Ia
menjelaskan sedikitnya terdapat empat peran utama mahasiswa, yakni sebagai fasilitator
yang membantu masyarakat memetakan persoalan dan potensi desa, inovator yang
menghadirkan teknologi tepat guna, edukator yang meningkatkan kapasitas
masyarakat melalui pendampingan, serta katalisator yang menghubungkan
masyarakat dengan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan berbagai mitra
pembangunan lainnya.
Belajar
dari Praktik Baik Desa
Untuk
memberikan gambaran nyata, Ahmad Riza memaparkan sejumlah praktik baik
pembangunan desa dari berbagai daerah.
Di
Desa Doplang, Kabupaten Karanganyar, Dana Desa dimanfaatkan untuk
pengembangan peternakan kambing melalui kelompok ternak masyarakat. Dari 25
ekor induk kambing, populasi berkembang menjadi 54 ekor dan memberikan manfaat
ekonomi bagi warga. Desa tersebut juga mengembangkan rumah hidroponik seluas
200 meter persegi untuk budidaya berbagai jenis sayuran sebagai bagian dari
penguatan ketahanan pangan lokal.
Praktik
baik lainnya berasal dari Desa Malaka, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan,
yang mengembangkan usaha ayam petelur melalui penyertaan modal kepada BUM Desa.
Dengan sekitar 1.000 ekor ayam petelur, unit usaha tersebut mampu menghasilkan
sekitar 700 butir telur setiap hari serta memberikan kontribusi terhadap
Pendapatan Asli Desa (PADes).
Sementara
itu, Desa Pucanganom, Kabupaten Gunungkidul, berhasil mengubah lahan
kering menjadi kawasan Rumah Pangan Lestari melalui pembangunan sistem
irigasi tetes, budidaya sayuran, peternakan kambing, serta budidaya ikan lele.
Program tersebut dikembangkan melalui kolaborasi pemerintah desa, kelompok
masyarakat, perguruan tinggi, dan BUM Desa.
Contoh
lain ditunjukkan Desa Sanur Kauh, Kota Denpasar, yang mengembangkan
ketahanan pangan melalui budidaya bawang, cabai, sayuran, serta peternakan sapi
yang dikelola BUM Desa. Menurut Ahmad Riza, praktik-praktik tersebut
membuktikan bahwa pembangunan desa akan berhasil apabila dilakukan secara
kolaboratif dengan memanfaatkan potensi lokal.
Ketahanan
Pangan Menjadi Prioritas Pembangunan Desa
Ahmad
Riza menegaskan bahwa ketahanan pangan menjadi salah satu fokus utama
pembangunan nasional. Pemerintah melalui Permendesa PDT Nomor 16 Tahun 2025
menetapkan delapan prioritas penggunaan Dana Desa Tahun 2026, meliputi
penanganan kemiskinan ekstrem melalui BLT Desa, desa tangguh bencana dan
berketahanan iklim, peningkatan layanan kesehatan desa, penguatan ketahanan
pangan dan energi, dukungan terhadap Koperasi Desa Merah Putih, program Padat
Karya Tunai Desa, digitalisasi desa, serta program prioritas sesuai kebutuhan
masing-masing desa.
Selain
itu, pemerintah juga mendorong penggunaan Indeks Desa sebagai instrumen
pembangunan berbasis data (evidence-based policy). Melalui Indeks Desa,
pemerintah desa dapat menyusun perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, hingga
evaluasi pembangunan secara lebih terukur sehingga intervensi pembangunan
menjadi lebih tepat sasaran.
Tinggalkan
Jejak Perubahan
Menutup
arahannya, Ahmad Riza Patria berpesan agar mahasiswa menjalankan KKN dengan
sikap rendah hati, menghormati budaya lokal, serta membangun hubungan yang
setara dengan masyarakat.
"Keberhasilan
KKN bukan diukur dari banyaknya kegiatan yang dilakukan, melainkan dari manfaat
yang benar-benar dirasakan masyarakat. Tinggalkanlah warisan berupa
pengetahuan, inovasi, kelembagaan yang lebih kuat, dan semangat gotong royong
yang terus hidup setelah KKN selesai," tuturnya.
Ia
optimistis, sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, masyarakat, dan dunia
usaha akan melahirkan desa-desa yang semakin maju, mandiri, berdaya saing,
sekaligus menjadi fondasi kuat bagi terwujudnya ketahanan pangan nasional dan
pembangunan Indonesia yang berkelanjutan.
Referensi:
- Materi
Presentasi "Peran Pemuda sebagai Penggerak Muda Pembangunan Desa
Berkelanjutan" oleh Wakil Menteri Desa dan Pembangunan Daerah
Tertinggal pada Pembekalan KKN UPN Veteran Jawa Timur, 1 Juli 2026.
- Badan
Pusat Statistik (BPS), Statistik Kemiskinan Indonesia 2025.
- Permendesa
PDT Nomor 16 Tahun 2025 tentang Petunjuk Operasional atas Fokus Penggunaan
Dana Desa Tahun 2026.
- RPJMN
2025–2029 dan Asta Cita Presiden Republik Indonesia.
