Desa Jadi Kunci Keberhasilan dalam 10 Tahun Dana Desa Berkontribusi Menurunkan Kemiskinan Turun 5,23 Juta Jiwa

    Sumber : BPS, Diolah, 2015-2025
Jakarta – Perjalanan Indonesia dalam menurunkan angka kemiskinan selama satu dekade terakhir menunjukkan capaian yang sangat signifikan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan bahwa jumlah penduduk miskin nasional berhasil turun dari 28,59 juta jiwa (11,22 persen) pada Maret 2015 menjadi 23,36 juta jiwa (8,25 persen) pada September 2025. Artinya, dalam kurun waktu sepuluh tahun, Indonesia berhasil mengurangi sekitar 5,23 juta penduduk miskin.

Capaian tersebut tidak berlangsung secara linier. Indonesia sempat mengalami kemunduran akibat pandemi COVID-19 yang menyebabkan jumlah penduduk miskin melonjak menjadi 27,55 juta jiwa pada September 2020. Namun, berbagai kebijakan pemulihan ekonomi dan penguatan pembangunan desa berhasil mengembalikan tren penurunan kemiskinan hingga mencapai titik terendah dalam sejarah pada tahun 2025.

Kemiskinan Desa Turun Lebih Cepat, Salah satu temuan penting dari perkembangan kemiskinan nasional adalah semakin membaiknya kondisi wilayah perdesaan. Pada tahun 2015, jumlah penduduk miskin di perdesaan mencapai 17,94 juta jiwa atau 14,09 persen dari total penduduk desa. Sepuluh tahun kemudian, angka tersebut turun menjadi 12,18 juta jiwa atau 10,72 persen.

Dengan demikian, selama periode 2015–2025, wilayah perdesaan berhasil mengurangi sekitar 5,76 juta penduduk miskin. Penurunan ini menjadi kontribusi terbesar terhadap keberhasilan pengentasan kemiskinan nasional. Selain itu, kesenjangan tingkat kemiskinan antara desa dan kota juga terus menyempit. Pada tahun 2015, selisih tingkat kemiskinan desa dan kota mencapai 6,35 persen. Pada tahun 2025, selisih tersebut turun menjadi 4,12 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa pembangunan desa semakin efektif dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengurangi ketimpangan antarwilayah.

Pandemi Menjadi Ujian Berat, Sebelum pandemi, Indonesia berhasil menurunkan kemiskinan secara konsisten hingga mencapai 24,78 juta jiwa pada September 2019. Namun, pandemi COVID-19 yang melanda dunia menyebabkan jumlah penduduk miskin kembali meningkat menjadi 27,55 juta jiwa pada September 2020.

Wilayah perkotaan menjadi kelompok yang paling terdampak. Jumlah penduduk miskin perkotaan meningkat dari 9,85 juta jiwa menjadi 12,04 juta jiwa hanya dalam satu tahun. Sektor industri, perdagangan, jasa, transportasi, serta usaha mikro perkotaan mengalami tekanan yang sangat besar akibat pembatasan aktivitas ekonomi. Di sisi lain, wilayah perdesaan relatif lebih resilien karena masih ditopang oleh sektor pertanian, perkebunan, peternakan, dan kegiatan ekonomi berbasis sumber daya lokal. Ketahanan ekonomi desa inilah yang kemudian menjadi salah satu faktor penting dalam mempercepat pemulihan pascapandemi.

Lima Faktor Utama Penurunan Kemiskinan, Keberhasilan Indonesia menurunkan kemiskinan dalam satu dekade terakhir tidak terlepas dari kombinasi berbagai kebijakan pembangunan yang saling memperkuat. Setidaknya terdapat lima faktor utama yang menjadi pendorong utama.

Dana Desa Sebagai Mesin Pertumbuhan Ekonomi Lokal, Sejak pertama kali disalurkan pada tahun 2015, Dana Desa telah menjadi instrumen pembangunan yang mengubah wajah perdesaan Indonesia. Dengan total alokasi mencapai ratusan triliun rupiah, Dana Desa digunakan untuk membangun jalan desa, jembatan, irigasi, embung, pasar desa, sarana air bersih, serta berbagai infrastruktur produktif lainnya. Pembangunan infrastruktur tersebut berhasil membuka akses masyarakat terhadap pasar, pendidikan, layanan kesehatan, dan pusat-pusat ekonomi. Biaya transportasi hasil pertanian menurun, produktivitas meningkat, dan aktivitas ekonomi desa tumbuh lebih cepat dibandingkan sebelumnya.

Bantuan Sosial yang Semakin Tepat Sasaran, Transformasi sistem perlindungan sosial melalui pemanfaatan data terpadu membuat bantuan pemerintah semakin akurat. Program Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT Dana Desa), bantuan pangan, dan berbagai program perlindungan sosial lainnya mampu menjaga daya beli rumah tangga miskin, terutama saat pandemi dan masa pemulihan ekonomi. Pemanfaatan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) juga membantu mengurangi kesalahan sasaran sehingga bantuan lebih efektif menjangkau kelompok masyarakat yang benar-benar membutuhkan.

Penguatan Ketahanan Pangan Desa, Kebijakan pengalokasian minimal 20 persen Dana Desa untuk ketahanan pangan telah memperkuat fondasi ekonomi masyarakat desa. Berbagai program budidaya pertanian, peternakan, perikanan, lumbung pangan desa, hingga pengembangan pangan lokal mampu menjaga ketersediaan pangan masyarakat. Kebijakan ini sangat penting karena komponen makanan masih menjadi faktor terbesar dalam pembentukan garis kemiskinan nasional. Ketika harga pangan terkendali dan produksi lokal meningkat, tekanan ekonomi terhadap rumah tangga miskin dapat dikurangi secara signifikan.

Padat Karya Tunai Desa Meningkatkan Pendapatan Masyarakat, Program Padat Karya Tunai Desa (PKTD) mendorong penggunaan tenaga kerja lokal dalam berbagai proyek pembangunan desa. Melalui pendekatan swakelola, masyarakat desa memperoleh kesempatan kerja sekaligus tambahan pendapatan secara langsung. Perputaran uang yang terjadi di tingkat desa memberikan efek berganda bagi ekonomi lokal. Pendapatan yang diterima pekerja digunakan untuk konsumsi sehari-hari sehingga menggerakkan usaha kecil, warung, pasar desa, dan pelaku ekonomi lokal lainnya.

Investasi pada Sumber Daya Manusia, Penanganan stunting, penyediaan air bersih, sanitasi layak, layanan kesehatan dasar, serta dukungan pendidikan menjadi investasi jangka panjang dalam memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Anak-anak yang tumbuh sehat memiliki peluang lebih besar untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik, meningkatkan produktivitas, dan keluar dari lingkaran kemiskinan ketika memasuki usia produktif.

Periode 2023–2025 Menjadi Akselerasi Terbaik, Periode pascapandemi menjadi momentum penting dalam percepatan penurunan kemiskinan. Dalam rentang September 2023 hingga September 2025, jumlah penduduk miskin nasional berkurang sekitar 2,54 juta jiwa. Penurunan tersebut didukung oleh membaiknya kondisi ekonomi nasional, meningkatnya kesempatan kerja, penguatan program perlindungan sosial, percepatan pembangunan desa, stabilisasi harga pangan, serta berbagai intervensi pemerintah pusat dan daerah yang lebih terintegrasi. Hasilnya, pada September 2025 Indonesia mencatat tingkat kemiskinan sebesar 8,25 persen, menjadi yang terendah sejak pengukuran kemiskinan modern dilakukan oleh BPS.

Menuju Indonesia Emas 2045, Ke depan, tantangan pengurangan kemiskinan tidak lagi hanya berfokus pada jumlah penduduk miskin, tetapi juga pada peningkatan kualitas hidup masyarakat, pengurangan kemiskinan ekstrem, penguatan ekonomi produktif, serta pengurangan kesenjangan antarwilayah. Keberhasilan satu dekade terakhir menunjukkan bahwa pembangunan desa bukan hanya agenda pembangunan wilayah, melainkan strategi nasional untuk menciptakan pertumbuhan yang inklusif. Desa yang kuat, produktif, dan mandiri terbukti menjadi fondasi penting dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat serta mempercepat pencapaian visi Indonesia Emas 2045. Dengan tren yang terus membaik, Indonesia memiliki peluang besar untuk menurunkan tingkat kemiskinan ke level yang lebih rendah dalam beberapa tahun mendatang, sekaligus memastikan bahwa manfaat pembangunan dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat hingga ke pelosok desa.

Editor : Mustakim - Perencana Ahli Madya

Tinggalkan Komentar